Haneda, bandara utama Tokyo, membuka satelit utara Terminal 1 pada 1 September 2026: perluasan besar pertama terminal itu sejak 1993, dengan enam garbarata dan lantai atas yang dibangun dari kayu cedar, oak dan larch Jepang.4 Sebulan kemudian pengelolanya, Japan Airport Terminal, menambahkan lapisan yang tidak terlihat. Sejak 1 Oktober, koridor penghubung dan area gerbang 24–29 diberi tiga aroma yang terinspirasi hutan Jepang, dari minyak aroma 100% alami tumbuhan Jepang.1 Tujuannya, tulis Nikkei, bukan hanya pengalaman penumpang, tetapi juga mengurangi stres orang yang bekerja di sana.3
Tiga hutan dalam satu koridorAromanya berganti pelan sepanjang jalan ke gerbang.
Racikannya dibuat TS Aromatique, studio aroma Tomoko Saito di Shibuya, Tokyo. “Hutan selatan” memakai hinoki, kamper hōshō dari Kagoshima, sugi dan yuzu, dan digambarkan kuat serta terang. “Hutan utara” memakai hinoki, cemara todomatsu Hokkaido, hiba dan mint Jepang: kesegaran pohon jarum di udara dingin yang jernih. “Hutan Haneda” menyatukan pohon-pohon yang paling identik dengan Jepang, hinoki, pinus merah, cemara, sugi dan yuzu.1 Ketiganya disusun mengikuti arah jalan penumpang, dari koridor penghubung sampai ruang tunggu gerbang, sehingga aroma berpindah perlahan seiring orang berjalan.2
Yang paling menarik adalah cara studio itu menjelaskan tujuannya. Di Instagram, timnya menulis bahwa aroma tidak “ditambahkan” ke ruang, melainkan diselaraskan dengan arsitektur, kayu, tanaman, cahaya, pemandangan dan gerak orang. Targetnya aroma yang “belum sampai disadari”: orang hanya merasa ada pepohonan di dekatnya, dan napasnya tanpa sadar sedikit lebih dalam.5
Aroma yang “belum sampai disadari”: orang hanya merasa ada pepohonan di dekatnya.Diuji dulu, baru dipasang
Tiga bulan percobaan di pemeriksaan keamanan Terminal 2.
Pemasangan ini bukan keputusan dadakan. Japan Airport Terminal menjalankan terminal.0 HANEDA, pusat riset bandara tempat 36 perusahaan, dua lembaga dan dua universitas bekerja sama. Dari April sampai Juni 2026 mereka menguji aroma di area pemeriksaan keamanan Terminal 2. Menurut rilisnya, penumpang menilainya tinggi, dan aroma dinilai berpotensi menciptakan pengalaman bandara yang nyaman dan menambah rasa rileks.1 Nikkei menyebut pemasangan di satelit baru ini sebagai salah satu hasil riset itu, dan kedua perusahaan akan melanjutkannya bersama.3

Urutannya patut ditiru: uji di satu titik, ukur tanggapan orang, lalu pasang di ruang yang arsitekturnya mendukung. Bandara memilih hutan karena bangunannya kayu. Aroma dan material bercerita hal yang sama.
Bukan hanya bandaraBisnis aroma ruang di Jepang terus tumbuh.
Haneda adalah contoh yang paling terlihat, bukan satu-satunya. Promotool, perusahaan aroma ruang di Tokyo dengan lebih dari 4.000 perusahaan klien, melaporkan penjualan “desain aroma ruang” pada Agustus 2026 naik 13,9% dari tahun sebelumnya, didorong permintaan hotel, fasilitas komersial, showroom dan kantor.6 Di Indonesia, ruang publik berukuran besar, lobi menara perkantoran, mal, bandara, rumah sakit, adalah tempat aroma paling jarang dirancang, dan paling terasa ketika dirancang dengan baik.




