Tanseisha adalah perusahaan desain ruang terkemuka di Jepang, dan kantornya di Shinagawa, Tokyo, dipakai sebagai laboratorium. Dari 1 sampai 14 April 2026, tiga bilik fokus dan dua bilik relaksasinya dipakai seperti biasa, tanpa aroma. Dari 15 April sampai 12 Mei, dua bilik fokus dan dua bilik relaksasi diberi aroma, sitrus untuk menyegarkan dan kayu untuk melepas lelah, yang dipilih dan dirancang KaleidoPath, studio desain aroma di Tokyo. Satu bilik fokus sengaja dibiarkan tanpa aroma sebagai pembanding.1 Yang membedakan percobaan ini dari testimoni biasa: pemakaian tidak ditanyakan, melainkan dihitung sensor inframerah dari layanan analisis ruang COCOSTAT milik Tanseisha, pada hari kerja pukul 07.00–19.00.1
Hasilnya tidak seragamSatu bilik naik 40%, satu bilik lain turun.
Bilik fokus ③ yang diberi aroma dipakai 14 kali dalam periode beraroma, dari 10 kali sebelumnya: naik 40%. Yang lebih menarik, sesi panjang muncul di bilik itu: pemakaian 30–60 menit dari 0 menjadi 2, dan 60–120 menit dari 0 menjadi 4.1 Tetapi bilik fokus ② yang juga beraroma justru turun, 44 → 39 pemakaian dan rata-rata 21 → 15 menit, dan bilik pembanding tanpa aroma ikut turun, 25 → 22.1 Di bilik relaksasi, bilik ② memanjang dari rata-rata 21 ke 29 menit dengan lebih banyak sesi 60 menit ke atas, sementara bilik ① sedikit memendek.1
KaleidoPath menulis sendiri bahwa ini verifikasi awal dengan jumlah sampel terbatas, dan hasilnya akan dikonfirmasi lewat percobaan berikutnya.1 Kami kutip apa adanya, karena justru itu yang membuat laporannya layak dibaca: angka naik dan angka turun ditampilkan berdampingan.
Sesi 60–120 menit di bilik fokus beraroma: dari nol menjadi empat.Yang layak dipercaya
Bukan angka 40%-nya, melainkan caranya.
Ada empat hal yang patut ditiru dari rancangan percobaan ini. Ada periode pembanding sebelum aroma dipasang. Ada satu bilik yang dibiarkan tanpa aroma. Pemakaian diukur sensor, dengan definisi yang jelas: deteksi terus-menerus dihitung satu sesi, jeda lebih dari 10 menit dihitung sesi baru. Dan aroma dirancang dengan konsentrasi yang “menyatu wajar dengan ruang”, dengan pilihan untuk tidak memakainya.1 Kuesioner dipakai hanya untuk hal yang memang subjektif: kekuatan aroma dan harapan pengguna tentang produktivitasnya setelah beristirahat, rata-rata +53,2 poin pada skala −100 sampai +100 di bilik relaksasi, dan setiap area paling sedikit +40. Perusahaannya menegaskan ini harapan, bukan produktivitas terukur.1

Dua pilihan aromanya juga bercerita. Sitrus untuk bilik yang mengejar kesegaran dan fokus, kayu untuk bilik yang mengejar lepas lelah. Itu sejalan dengan dua tulisan kami sebelumnya: aroma yang berbeda membantu lelah yang berbeda, dan aroma hanya bekerja kalau orangnya menyukainya. Pilihan tanpa aroma yang tetap disediakan adalah cara paling sederhana menghormati yang kedua.
Untuk kantor di IndonesiaMulai dari ruang kecil, lalu ukur.
Kantor-kantor di Jakarta kini juga membangun bilik telepon, ruang fokus dan sudut tenang. Ruang-ruang itu adalah tempat termudah untuk mencoba aroma: volumenya kecil, tujuannya jelas, dan pemakaiannya bisa dihitung dari sistem pemesanan ruang atau sensor yang sudah ada. Tanseisha butuh dua minggu tanpa dan empat minggu dengan aroma untuk mendapat angka yang bisa dibaca. Itu ukuran percobaan yang masuk akal untuk kantor mana pun.




